Rabu, 04 Juli 2012

Arti Sebenarnya dari Mimpi Anda

Oleh Allure Magazine | Healthy Living

Judith Newman, Allure Magazine

Pernahkah Anda terbangun dari tidur dengan bercucuran keringat setelah merasa bahwa gigi Anda copot atau Anda berjalan masuk kelas Bahasa Inggris dengan telanjang bulat? Apa sebenarnya arti dari mimpi-mimpi tersebut? Kita bertanya kepada ahlinya.

Mimpi: Gigi copot


Mungkin mimpi yang paling banyak disalahartikan.

Artinya: "Mimpi itu menggambarkan kegelisahan atas bagaimana pandangan orang lain terhadap Anda," kata Michael Vigo dari situs dreammoods.com. Judith Orloff, penulis “Second Sight: An Intuitive Psychiatrist's Story” menambahkan bahwa: "Para wanita memimpikan hal itu ketika merasa mereka kehilangan kekuatan."



Mimpi: Telanjang

Anda muncul di suatu tempat dalam keadaan telanjang, tetapi hanya Anda yang menyadarinya.

Arti: Anda merasa terlalu terbuka. "Anda merasa takut bahwa Anda terlalu terbuka atau ada rahasia pribadi Anda yang terbongkar," kata Orloff. Tetapi itu tidak selalu hal yang buruk, tambah Gillian Holloway, penulis “5 Steps to Decode Your Dreams”. "Mimpi tersebut biasanya muncul ketika terjadi perubahan dalam hidup Anda, seperti cinta baru atau sebuah promosi. Anda mungkin hanya merasa belum siap menerima apa yang terjadi."




Mimpi: Payudara


Payudara bisa menjadi besar, mengecil, atau bocor.

Arti: Sering kali mimpi tersebut berhubungan dengan rasa percaya diri dan seksualitas. "Saya memiliki pasien dengan implan besar di payudaranya, yang mengalami mimpi buruk ketika dia menghadiri pemakamannya sendiri, dan yang tersisa dari jasadnya hanyalah implannya," kata Orloff. "Kepercayaan dirinya berpusat di payudaranya." Payudara yang bocor mungkin menandakan pergulatan batin antara peran menjadi seorang ibu dan istri.




Mimpi: Kuku

Kuku Anda patah, Anda gigiti sendiri, atau mereka tumbuh secara tidak terkontrol.

Arti: Mimpi kuku yang patah mungkin berarti Anda sedang menghindari sebuah situasi atau tanggung jawab, kata Vigo. Mengigiti kuku Anda dapat berarti ada masalah yang terjadi yang cukup sulit untuk Anda hadapi. Dan kuku yang tumbuh terlalu panjang, menurut Holloway, menandakan bahwa Anda sedang mempertahankan diri sendiri dan kehilangan kemampuan untuk melihat dalam ruang lingkup yang lebih besar.

Sabtu, 30 Juni 2012

Siap Nge-Date

Jumat, 27 Januari 2012
Anekayess-online.com – Yeay, 2012 ini Sandara Park sudah boleh pacaran, hehehe…. Lima tahun lalu, bareng Park Bom, member 2NE1 ini bikin perjanjian sama Yang Hyun Suk, CEO YG Entertainment, kalau mereka nggak boleh nge-date dulu sebelum 2NE1 eksis selama lima tahun. Sekarang, masa perjanjiannya sudah berakhir!

"Hari ini tahun baru! 99% pesan yang aku terima dari teman adalah, 'Semoga kamu dapet cowok yang keren tahun ini,' dan 'Have a wonderful love this year!' Kayaknya orang-orang lebih kuatir daripada aku,” tulisnya di Me2Day.

Tulisan cewek 27 tahun ini masih berlanjut, “As promised by YG CEO, kami bebas nge-date mulai tahun ini! Woot! Anyways, everyone, have a blessed new year! I want to become cuter this year! Age does not matter for us anymore! Cuter! More fun and entertaining! Fighting!"

Wih, Dara bakal pedekate sama siapa ya? FYI, sebelum gabung dengan 2NE1, ia pernah jalan bareng sesama kontestan Star Circle Quest, Joseph Bitangcol.
(*MN/Ft: Berbagai sumber)*

Rabu, 27 Juni 2012

Tes IQ

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
 


 
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan . Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan
Tes Binet-Simon . Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ
. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence) . Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitud e test . Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE) . Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
Sumber : http://www.dwifajar.co.cc/

Urgensi Pendidikan Karakter

Urgensi Pendidikan Karakter
Prof . Suyanto Ph.D
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.


Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character... that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter... adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Memahami Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Dampak Pendidikan Karakter
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.*
Sumber: http://dikdas.kemdiknas.go.id

Pola BK 17 Plus

SEJARAH BIMBINGAN DAN KONSELING DAN LAHIRNYA BK 17 PLUS
Pendahuluan
Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960. Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan “pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.

Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan guru BP dari tamatan S1 Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan. Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menp an/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas, parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah. Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.
Pra Lahirnya Pola 17
Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah diselenggarakan dengan pola yang tidak jelas, ketidak jelasan pola yang harus diterapkan berdampak pada buruknya citra bimbingan dan konseling, sehingga melahirkan miskonsepsi terhadap pelaksanaan BK, munculnya persepsi negatif terhadap pelaksanaan BK, berbagai kritikan muncul sebagai wujud kekecewaan atas kinerja Guru Pembimbing sehingga terjadi kesalahpahaman, persepsi negatif dan miskonsepsi berlarut. Masalah menggejala diantaranya: konselor sekolah dianggap polisi sekolah, BK dianggap semata-mata sebagai pemberian nasehat, BK dibatasi pada menangani masalah yang insidental, BK dibatasi untuk klien-klien tertentu saja, BK melayani ”orang sakit” dan atau ”kurang normal”, BK bekerja sendiri, konselor sekolah harus aktif sementara pihak lain pasif, adanya anggapan bahwa pekerjaan BK dapat dilakukan oleh siapa saja, pelayanan BK berpusat pada keluhan pertama saja, menganggap hasil pekerjaan BK harus segera dilihat, menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien, memusatkan usaha BK pada penggunaan instrumentasi BK (tes, inventori, kuesioner dan lain-lain) dan BK dibatasi untuk menangani masalah-masalah yang ringan saja.
Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah diselenggarakan dengan pola yang tidak jelas, ketidak jelasan pola yang harus diterapkan disebabkan diantaranya oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Belum adanya hukum
Sejak Konferensi di Malang tahun 1960 sampai dengan munculnya Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Bandung dan IKIP Malang tahun 1964, fokus pemikiran adalah mendesain pendidikan untuk mencetak tenaga-tenaga BP di sekolah. Tahun 1975 Konvensi Nasional Bimbingan I di Malang berhasil menelurkan keputusan penting diantaranya terbentuknya Organisasi bimbingan dengan nama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). Melalui IPBI inilah kelak yang akan berjuang untuk memperolah Payung hukum pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah menjadi jelas arah kegiatannya.
2. Semangat luar biasa untuk melaksanakan
BP di sekolahLahirnya SK Menpan No. 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Merupakan angin segar pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah. Semangat yang luar biasa untuk melaksanakan ini karena di sana dikatakan “Tugas guru adalah mengajar dan/atau membimbing.” Penafsiran pelaksanaan ini di sekolah dan didukung tenaga atau guru pembimbing yang berasal dari lulusan Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan atau Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (sejak tahun 1984/1985) masih kurang, menjadikan pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas. Lebih-lebih lagi dilaksanakan oleh guru-guru yang ditugasi sekolah berasal dari guru yang senior atau mau pensiun, guru yang kekurangan jam mata pelajaran untuk memenuhi tuntutan angka kreditnya. Pengakuan legal dengan SK Menpan tersebut menjadi jauh arahnya terutama untuk pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah.
3. Belum ada aturan main yang jelas
Apa, mengapa, untuk apa, bagaimana, kepada siapa, oleh siapa, kapan dan di mana pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan dilaksanakan juga belum jelas. Oleh siapa bimbingan dan penyuluhan dilaksanakan, di sekolah banyak terjadi diberikan kepada guru-guru senior, guru-guru yang mau pensiun, guru mata pelajaran yang kurang jam mengajarnya untuk memenuhi tuntutan angka kreditnya. Guru-guru ini jelas sebagian besar tidak menguasai dan memang tidak dipersiapkan untuk menjadi Guru Pembimbing. Kesan yang tertangkap di masyarakat terutama orang tua murid Bimbingan Penyuluhan tugasnya menyelesaikan anak yang bermasalah. Sehingga ketika orang tua dipanggil ke sekolah apalagi yang memanggil Guru Pembimbing, orang tua menjadi malu, dan dari rumah sudah berpikir ada apa dengan anaknya, bermasalah atau mempunyai masalah apakah. Dari segi pengawasan, juga belum jelas arah dan pelaksanaan pengawasannya. Selain itu dengan pola yang tidak jelas tersebut mengakibatkan:
  1. Guru BP (sekarang Konselor Sekolah) belum mampu mengoptimalisasikan tugas dan fungsinya dalam memberikan pelayanan terhadap siswa yang menjadi tanggungjawabnya. Yang terjadi malah guru pembimbing ditugasi mengajarkan salah satu mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Kesenian, dsb.nya.
  2. Guru Pembimbing merangkap pustakawan, pengumpul dan pengolah nilai siswa dalam kelas-kelas tertentu serta berfungsi sebagai guru piket dan guru pengganti bagi guru mata pelajaran yang berhalangan hadir.
  3. Guru Pembimbing ditugasi sebagai “polisi sekolah” yang mengurusi dan menghakimi para siswa yang tidak mematuhi peraturan sekolah seperti terlambat masuk, tidak memakai pakaian seragam atau baju yang dikeluarkan dari celana atau rok.
  4. Kepala Sekolah tidak mampu melakukan pengawasan, karena tidak memahami program pelayanan serta belum mampu memfasilitasi kegiatan layanan bimbingan di sekolahnya,
  5. Terjadi persepsi dan pandangan yang keliru dari personil sekolah terhadap tugas dan fungsi guru pembimbing, sehingga tidak terjalin kerja sama sebagaimana yang diharapkan dalam organisasi bimbingan dan konseling.Kondisi-kondisi seperti di atas, nyaris terjadi pada setiap sekolah di Indonesia.
Lahirnya Pola 17
SK Mendikbud No. 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya terdapat hal-hal yang substansial, khususnya yang menyangkut bimbingan dan konseling adalah : 1. Istilah “bimbingan dan penyuluhan” secara resmi diganti menjadi “bimbingan dan konseling.” 2. Pelaksana bimbingan dan konseling di sekolah adalah guru pembimbing, yaitu guru yang secara khusus ditugasi untuk itu. Dengan demikian bimbingan dan konseling tidak dilaksanakan oleh semua guru atau sembarang guru. 3. Guru yang diangkat atau ditugasi untuk melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling adalah mereka yang berkemampuan melaksanakan kegiatan tersebut; minimum mengikuti penataran bimbingan dan konseling selama 180 jam. 4. Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan pola yang jelas : a. Pengertian, tujuan, fungsi, prinsip dan asas-asasnya. b. Bidang bimbingan : bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir c. Jenis layanan : layanan orientasi, informasi, penempatan/penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.d. Kegiatan pendukung : instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus. Unsur-unsur di atas (nomor 4) membentuk apa yang kemudian disebut “BK Pola-17” 5. Setiap kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan melalui tahap :a. Perencanaan kegiatanb. Pelaksanaan kegiatanc. Penilaian hasil kegiatand. Analisis hasil penilaiane. Tindak lanjut6. Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan di dalam dan di luar jam kerja sekolah. Hal-hal yang substansial di atas diharapkan dapat mengubah kondisi tidak jelas yang sudah lama berlangsung sebelumnya. Langkah konkrit diupayakan seperti :1. Pengangkatan guru pembimbing yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling.2. Penataran guru-guru pembimbing tingkat nasional, regional dan lokal mulai dilaksanakan.3. Penyususnan pedoman kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, seperti :a. Buku teks bimbingan dan konselingb. Buku panduan pelaksanaan menyeluruh bimbingan dan konseling di sekolahc. Panduan penyusunan program bimbingan dan konselingd. Panduan penilaian hasil layanan bimbingan dan konselinge. Panduan pengelolaan bimbingan dan konseling di sekolah4. Pengembangan instrumen bimbingan dan konseling5. Penyusunan pedoman Musyawarah Guru Pembimbing (MGP) Dengan SK Mendikbud No 025/1995 khususnya yang menyangkut bimbingan dan konseling sekarang menjadi jelas : istilah yang digunakan bimbingan dan konseling, pelaksananya guru pembimbing atau guru yang sudah mengikuti penataran bimbingan dan konseling selama 180 jam, kegiatannya dengan BK Pola-17, pelaksanaan kegiatan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, penilaian, analisis penilaian dan tindak lanjut. Pelaksanaan kegiatan bisa di dalam dan luar jam kerja. Peningkatan profesionalisme guru pembimbing melalui Musyawarah Guru Pembimbing, dan guru pembimbing juga bisa mendapatkan buku teks dan buku panduan.

Minggu, 24 Juni 2012

Enam Langkah Membunuh Cemas

Rasa cemas seringkali datang tanpa terduga. Bukan hanya membuat perasaan tak tenang, kekhawatiran berlebihan yang tak kunjung reda bisa mengganggu kesehatan. Mulai dari mulut kering hingga peningkatan denyut jantung yang bisa memicu efek mual dan serangan panik.
Menghindar dari kecemasan bukan perkara mudah. Tapi, rasa tak nyaman itu bisa diredam dengan sejumlah cara, seperti dikutip dari laman Shine berikut.
1. Spa

Relaksasi ini bisa mengalihkan pikiran dari rasa khawatir. Tak harus dilakukan di salon dengan biaya mahal, spa bisa dinikmati di rumah. Banyak panduan spa melalui CD atau DVD yang bisa diikuti di rumah.
“Hanya butuh beberapa menit mendengarkan petunjuk narator, suara yang menenangkan, yang mendorong saya untuk mengelilingi diri dengan kekuatan, sebelum aku benar-benar tidak merasa tenang dan tidak terlalu khawatir,” demikian tulis ahli pengobatan alternatif Sara Altshul.
2. Makan mangga
Menurut peneliti dari Jepang, tindakan sederhana mengupas, mengiris, dan makan mangga, bisa membantu mendinginkan kekacauan otak. Mangga mengandung senyawa yang disebut linalool. Penelitian yang dipublikasikan dalam edisi terbaru Jurnal Pertanian dan Pangan Kimia mengungkap, menghirup bau makanan kaya linalool, termasuk basil dan lemon, membantu mengatasi stres dan rasa cemas.
Cobalah membuat jus mangga dengan tambahan 2 sdm madu, 1/2 cangkir perasan jeruk, dan 1/2 cangkir plain yogurt dengan beberapa kubus es batu untuk meredakan cemas dan stres.
3. Menulis catatan pribadi
Carol Kryder, PhD, seorang psikolog klinis dan ahli kesehatan mental untuk JustAnswer.com mengatakan, menulis bisa menjadi kunci untuk mengusir emosi negatif.
Catatan harian bisa menjadi media untuk mengendalikan pikiran. Jangan hanya menuliskan kecemasan, tapi coba berkhayal untuk menuliskan langkah antisipasi mengenai hal buruk yang mungkin terjadi.
4. Rangsangan karet gelang
Vandana Bhide, MD, seorang internis dalam praktik kejiwaan di Florida menawarkan terapi ringan untuk mengatasi rasa cemas berlebih. “Pasang karet gelang di pergelangan tangan dan hentakkan kareta secara perlahan ke permukaan kulit setiap kali rasa itu muncul,” katanya. “Ini akan mengingatkan diri untuk mengarahkan pikiran.”
5. Kunyah cokelat
Mengonsumsi cokleat bisa membantu meredakan rasa khawatir. Penelitian yang diterbitkan tahun lalu dalam Journal of Proteome Research, mengungkao, mereka yang makan satu ons cokelat hitam setiap hari selama dua minggu mengalami penurunan hormon stres dalam tubuh.
Menjaga hormon stres tetap seimbang dapat membuat Anda lebih siap untuk menghadapi kekhawatiran dan membantu Anda menangani masalah kehidupan yang tidak stabil. Jika Anda benar-benar ingin meredakan rasa khawatir disarankan memilih dark chocolate yang kaya antioksidan.
6. Yoga
Banyak studi yang menghubungkan antara kebugaran dan kondisi kejiwaan. Pelatih Kebugaran asal Florida, Equinox Kalicinski Sylvia, mengatakan yoga adalah latihan terbaik yang membantu mengontrol rasa cemas.
“Yoga mengajarkan Anda cara bernapas saat mengahadapi kesulitan, mengarahkan pikiran dan energi sementara menjadi lebih sadar akan reaksi Anda,” katanya. “Yoga adalah alat yang membantu Anda mengatur ulang sistem saraf dan salah satu alat paling kuat untuk melepaskan stres.”

5 Alasan Mengapa Kita Belum Mencapai Kesuksesan atau Kekayaan

5 Alasan sederhana kenapa kebanyakan orang tidak akan pernah mencapai kekayaan… dan bagaimana memastikan anda melakukan hal hal yang diperlukan!”
Seorang bernama Mike Litman, pernah meneliti bagaimana cara menjadi kaya dengan melakukan wawancara kepada 20 Milyuner yang kaya karena usaha sendiri ( bukan karena warisan ).
Setelah Mike melakukan wawancara, beliau menemukan, ada beberapa rahasia yang membuat mereka kaya raya sementara orang lain sibuk berjuang.
Ternyata sangat sederhana.
Berikut adalah 5 alasan sederhana kenapa kebanyakan orang tidak akan pernah kaya dan bagaimana memastikan anda melakukan ke 5 hal ini:
ALASAN NO #1 - Menunggu untuk mulai:
Kebanyakan orang tidak ingin menunggu untuk sukses. Namun, pada saat yang sama, mereka menunggu terlalu lama untuk memulai di jalan kesuksesan.
Anda bisa melihat masalahnya kan?
Semakin lama anda menunggu untuk memulai, semakin lama anda akan mendapatkan hasil, kesuksesan, dan gaya hidup yang anda inginkan.
Banyak orang menunggu segala sesuatu menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum mereka memulai. Oleh karena itu, mereka tidak pernah memulai dan tidak pernah mencapai sesuatu yang berarti.
Tidak ada pertandingan yang pernah dimenangkan atau diakhiri oleh seseorang yang tidak pernah meninggalkan garis start!
Jangan menunggu untuk memulai. Mulai sekarang juga berjalan di jalan kesuksesan anda.
ALASAN NO #2 - Buta huruf secara finansial:
Hal penting dalam kekayaan adalah mengerti perbedaan dari aset dan hutang.
Aset adalah mendatangkan uang ke kantong anda.
Hutang mengeluarkan uang dari kantong anda.
Banyak orang mengira bahwa rumah mereka, mobil mereka, dan kepemilikan yang lain adalah asset. Tetapi, sebenarnya adalah bahwa dalam banyak kesempatan, semuanya itu membuat uang keluar dari kantong anda. Semuanya itu menyebabkan ada mengeluarkan uang untuk pembiayaan.
Semuanya itu tidak membuat anda menghasilkan uang.
Oleh karena itu, hal yang sebenarnya, semuanya itu adalah merupakan beban (hutang).
Semuanya itu mengambil uang anda keluar setiap bulannya.
Ketika anda mempunyai lebih banyak uang yang datang dari aset yang sesungguhnya daripada yang anda keluarkan untuk membayar beban, anda akan menjadi bebas secara finansial. Hanya ada 1 cara untuk melakukan nya.
Yang membawa kita ke hal ketiga…
ALASAN NO #3 - Fokus pada penghasilan yang mendatar daripada penghasilan yang pasive.
Salah satu dari Milyuner yang diwawancarai menyampaikan secara sederhana, “Jika anda tidak menghasilkan uang ketika anda tidur, maka anda tidak akan kaya.”
Penghasilan yang mendatar adalah apa yang anda dapatkan dari pekerjaan anda. Anda bekerja selama 1 jam dan mendapatkan bayaran hanya satu kali saja dari pekerjaan satu jam itu, hanya itu.
Penghasilan pasive adalah ketika anda bekerja sekali namun secara terus menerus dibayar lagi dan lagi dari pekerjaan yang TIDAK lagi anda lakukan.
Berinvestasi atau menciptakan aset yang sebenarnya yang menghasilkan penghasilan pasive untuk anda adalah tiket menuju kemakmuran.
ALASAN NO #4 - Tidak mengerti atau tidak menggunakan sistem untuk menghasilkan uang.
Sebuah SYSTEM yang menghasilkan uang adalah sesuatu yang mengjinkan anda untuk mendapatkan uang tanpa usaha anda sendiri. Dengan kata lain, Itu adalah cara yang otomatis untuk menghasilkan uang.
Semua Aset yang sejati adalah hanya sebuah “sistem” dengan sendirinya.
Sekali anda menciptakan atau berinvestasi pada sebuah sistem yang sederhana untuk menghasilkan uang, maka tidak ada batasan pada seberapa banyak uang yang bisa anda hasilkan.
Menjadi seorang ahli dan sistem uang dapat membawa kekayaan lebih dari yang anda impikan.
ALASAN NO #5 - Tidak Cukup GIGIH atau SABAR:
Untuk menyelesaikan sebuah pertandingan anda harus meninggalkan garis start dan mengikuti garis menuju ke batas Finish.
Kebanyakan orang, mencipatakan kegagalan mereka sendiri dengan apakah tidak pernah memulai atau tidak bertahan, atau keduanya. :-) Anda HARUS tidak hanya memulai, namun juga bertahan terus.
Hal ini kelihatan nya jelas, tetapi adalah penyebab terbesar dari kegagalan.
Hanya dengan bergabung dalam sebagian kecil orang yang mau melakukan ke 5 hal diatas, maka anda akan mendapatkan kesempatan yang sangat besar untuk sukses dan kaya.
Sebenarnya sangat sederhana… putuskan untuk melakukan hal hal diatas, dan anda juga bisa menjadi kaya. Kalau anda tidak lakukan hal diatas, maka anda akan menjadi seperti kebanyakan orang yang tidak sukses.
Putuskan sekarang juga untuk menjadi ahli pada hal hal yang disebutkan diatas, dan mulai perjalanan menuju kesuksesan anda sekarang. Dan tetap bertahan dan lihat perbedaan yang dilakukan nya.
Sumber: http://satudetik.blogdetik.com